Jumat, 30 Januari 2015
Kamis, 29 Januari 2015
Sepekan Diterjang Banjir, Warga Oan Mane dan Sikun Kehabisan Makanan
Senin, 05 Januari 2015, 11:42 WIB
Bisnis.com,
KUPANG--Ratusan warga Desa Sikun dan Oan Mane di Kabupaten Malaka, Nusa
Tenggara Timur, wilayah batas Negara RI-Timor Leste yang diterjang
banjir sejak sepekan terakhir sebagai akibat meluapnya Sungai Benanain,
mulai kehabisan makanan.
"Kami kehabisan makanan dan saat ini kami hanya bisa mengkonsumsi pisang dan ubi yang juga stoknya tidak banyak," kata seorang warga Dusun Airae, Desa Sikun, Kabupaten Malaka Anastasia Hoar yang dihubungi dari Kupang, Senin (5/1/2015).
Menurutnya, kondisi itu diperparah dengan tidak adanya bantuan dari pemerintah setempat untuk mengatasi kondisi yang dialami warga tersebut.
"Kami sudah dihantam banjir sejak sepekan, namun hingga kini pun belum ada bantuan dari pemerintah setempat. Di mana pemerintah kami," katanya dengan nada tanya.
Dia mengatakan, warga saat ini hanya bisa bertahan hidup dengan makanan seadanya, berupa pisang, ubi kayu dan kelapa kering yang juga tidak banyak stoknya. Beras dan jagung sebagai stok makanan sudah habis selama mengalami bencana banjir tersebut.
"Apa salah kami sehingga pemerintah tidak pernah menggubris kami untuk memberikan bantuan makanan kepada kami," katanya lirih.
Dia mengaku tidak bisa melakukan apa-apa, karena kondisi desanya direndam banjir setinggi satu meter hingga dua meter disertai lumpur. "Akses kami terputus, kami hanya bisa bertahan di rumah panggung kami dengan kondisi makanan yang juga mulai menipis," katanya.
Hal senada disampaikan warga lainnya Eduardus Bria Klau, yang mengaku seluruh lumbung dan lahan pertanian rata tanah dihantam banjir sejak sepekan terakhir. Tinggi banjir bisa mencapai dua meter dan merendam seluruh desa itu. "Kami kehabisan makanan. Anak-anak, kami berikan makan ubi dan kelapa kering," katanya.
Dia mengaku hingga saat ini, belum ada intervensi dari pemerintah setempat, untuk mengatasi kesulitan kekurangan pangan yang dialami warga setempat. "Kami harus berbuat apa. Pemerintah tak berikan bantuan apa-apa," katanya.
Dia mengaku, ada sekitar 500 kepala keluarga di Desa Sikun yang masih tetap bertahan di wilayah desa itu, dengan berlindung diri di atas rumah-rumah panggung yang dimiliki. "Kami hanya bisa berharap pemerintah segera melakukan aksi untuk bisa menyelamatkan kami dan anak-anak kami," katanya.
Sementara itu Penjabat Bupati Malaka Herman Nai Ulu yang dihubungi melalui telepon genggamnnya tidak menggubris.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur Tini Thadeus yang dihubungi terpisah di Kupang mengaku belum mendapatkan laporan resmi terkait bencana banjir yang terjadi di wilayah batas negara itu.
Kendati demikian, Peprov NTT, melalui BPBD telah menyalurkan sejumlah kebutuhan tanggap darurat sebagai 'buffer stock' di awal Desember 2014 silam.
"Intervensi bantuan yang dijadikan sebagai 'buffer stock' di daerah itu sudah dilakukan sebelum Perayaan Natal yang lalu. Kita berharap petugas di daerah itu sudah bisa menyalurkan sejumlah stok bantuan tanggap darurat ke masyarakat korban banjir," katanya.
Dia menyebutkan, sejumlah bantuan tanggap darurat yang sudah disalurkan ke daerah itu oleh BPBD Nusa Tenggara Timur, antara lain, tenda sejumlah makanan dan minuman siap saji seperti super mie dan biskuit berbagai jenis serta tikar.
Banjir akibat meluapnya Sungai Benanain di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah merendam ribuan rumah di dua desa yang berada di bantaran sungai yang membelah wilayah perbatasan Negara RI-Timor Leste itu, Minggu dini hari tadi.
Meski banjir yang ada merupakan banjir kiriman, namun telah memberikan dampak buruk, dimana rumah warga di dua desa sepanjang bantaran kali terendam.
Dua desa yang telah menjadi korban tumpahan banjir dari Sungai Benanain itu sebagai akibat kiriman dari sejumlah daerah di hulu sungai seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU) itu masing-masing Desa Sikun dan Desa Oan Mane.
Sepekan Diterjang Banjir, Warga Oan Mane Kehabisan Makanan
Newswire"Kami kehabisan makanan dan saat ini kami hanya bisa mengkonsumsi pisang dan ubi yang juga stoknya tidak banyak," kata seorang warga Dusun Airae, Desa Sikun, Kabupaten Malaka Anastasia Hoar yang dihubungi dari Kupang, Senin (5/1/2015).
Menurutnya, kondisi itu diperparah dengan tidak adanya bantuan dari pemerintah setempat untuk mengatasi kondisi yang dialami warga tersebut.
"Kami sudah dihantam banjir sejak sepekan, namun hingga kini pun belum ada bantuan dari pemerintah setempat. Di mana pemerintah kami," katanya dengan nada tanya.
Dia mengatakan, warga saat ini hanya bisa bertahan hidup dengan makanan seadanya, berupa pisang, ubi kayu dan kelapa kering yang juga tidak banyak stoknya. Beras dan jagung sebagai stok makanan sudah habis selama mengalami bencana banjir tersebut.
"Apa salah kami sehingga pemerintah tidak pernah menggubris kami untuk memberikan bantuan makanan kepada kami," katanya lirih.
Dia mengaku tidak bisa melakukan apa-apa, karena kondisi desanya direndam banjir setinggi satu meter hingga dua meter disertai lumpur. "Akses kami terputus, kami hanya bisa bertahan di rumah panggung kami dengan kondisi makanan yang juga mulai menipis," katanya.
Hal senada disampaikan warga lainnya Eduardus Bria Klau, yang mengaku seluruh lumbung dan lahan pertanian rata tanah dihantam banjir sejak sepekan terakhir. Tinggi banjir bisa mencapai dua meter dan merendam seluruh desa itu. "Kami kehabisan makanan. Anak-anak, kami berikan makan ubi dan kelapa kering," katanya.
Dia mengaku hingga saat ini, belum ada intervensi dari pemerintah setempat, untuk mengatasi kesulitan kekurangan pangan yang dialami warga setempat. "Kami harus berbuat apa. Pemerintah tak berikan bantuan apa-apa," katanya.
Dia mengaku, ada sekitar 500 kepala keluarga di Desa Sikun yang masih tetap bertahan di wilayah desa itu, dengan berlindung diri di atas rumah-rumah panggung yang dimiliki. "Kami hanya bisa berharap pemerintah segera melakukan aksi untuk bisa menyelamatkan kami dan anak-anak kami," katanya.
Sementara itu Penjabat Bupati Malaka Herman Nai Ulu yang dihubungi melalui telepon genggamnnya tidak menggubris.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur Tini Thadeus yang dihubungi terpisah di Kupang mengaku belum mendapatkan laporan resmi terkait bencana banjir yang terjadi di wilayah batas negara itu.
Kendati demikian, Peprov NTT, melalui BPBD telah menyalurkan sejumlah kebutuhan tanggap darurat sebagai 'buffer stock' di awal Desember 2014 silam.
"Intervensi bantuan yang dijadikan sebagai 'buffer stock' di daerah itu sudah dilakukan sebelum Perayaan Natal yang lalu. Kita berharap petugas di daerah itu sudah bisa menyalurkan sejumlah stok bantuan tanggap darurat ke masyarakat korban banjir," katanya.
Dia menyebutkan, sejumlah bantuan tanggap darurat yang sudah disalurkan ke daerah itu oleh BPBD Nusa Tenggara Timur, antara lain, tenda sejumlah makanan dan minuman siap saji seperti super mie dan biskuit berbagai jenis serta tikar.
Banjir akibat meluapnya Sungai Benanain di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah merendam ribuan rumah di dua desa yang berada di bantaran sungai yang membelah wilayah perbatasan Negara RI-Timor Leste itu, Minggu dini hari tadi.
Meski banjir yang ada merupakan banjir kiriman, namun telah memberikan dampak buruk, dimana rumah warga di dua desa sepanjang bantaran kali terendam.
Dua desa yang telah menjadi korban tumpahan banjir dari Sungai Benanain itu sebagai akibat kiriman dari sejumlah daerah di hulu sungai seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU) itu masing-masing Desa Sikun dan Desa Oan Mane.
Sumber : Antara
Editor : Ema Sukarelawanto
Editor : Ema Sukarelawanto
Selasa, 27 Januari 2015
Sisi LainMU
Entah mengapa, sepertinya sisi lainmu kini telah
menjadi sesuatu yang berarti bagiku. Karena dengan atau tanpa sadar,
sebenarnya aku telah belajar tentang banyak hal darimu.
Tentang lelahnya menunggu dan susahnya membunuh waktu, sebelum bertemu denganmu. Tentang sepi yang harus kutikam sendiri, ketika terkadang rinduku mulai tak kau pedulikan lagi. Tentang canda tawaku yang entah kenapa harus rela kutukar dengan diammu.
Tentang cemburu yang meski telah rapat kusimpan, tapi tetap saja kau tahu. Tentang ego yang ternyata masih sulit kubungkam dan akhirnya sering membuatmu “menghilang” tanpa alasan. Tentang semua dan segala yang sebelumnya tak pernah ada dan kurasa, kini kerap tergantung oleh tanya. Tentang aku yang akhirnya mengerti bahwa sebuah rasa memang tak layak untuk dipaksa.
Dan, mungkinkah di saat yang sama, kau pun telah belajar dari sebagian waktu yang telah kau titipkan padaku??
Entahlah,…
Tentang lelahnya menunggu dan susahnya membunuh waktu, sebelum bertemu denganmu. Tentang sepi yang harus kutikam sendiri, ketika terkadang rinduku mulai tak kau pedulikan lagi. Tentang canda tawaku yang entah kenapa harus rela kutukar dengan diammu.
Tentang cemburu yang meski telah rapat kusimpan, tapi tetap saja kau tahu. Tentang ego yang ternyata masih sulit kubungkam dan akhirnya sering membuatmu “menghilang” tanpa alasan. Tentang semua dan segala yang sebelumnya tak pernah ada dan kurasa, kini kerap tergantung oleh tanya. Tentang aku yang akhirnya mengerti bahwa sebuah rasa memang tak layak untuk dipaksa.
Dan, mungkinkah di saat yang sama, kau pun telah belajar dari sebagian waktu yang telah kau titipkan padaku??
Entahlah,…
Selendang Hijau
Nuansa kalbu yang lara
Mencekam hati dan prahara
Tiadakah kau melihat di ujung jagad
Dia mengibarkannya
Untuk satu selendang
Dia mecarimu
Kau, ialah kau sang hijau
Dikalungkan di lehernya.
Aku ingin sehelai selendang hijau itu
Berkibar dibalik kemeja hitam yang kau sandangkan
Kalbu bersyair
Pandanganmu bak tombak menusuk baja, tajam
Dikala api menyambar sukma
Aung…….
Kau mengaung bagaikan serigala membunuh malam.
Tak cukup
Lihat! Hijau reruntuhan itu
Berputar menari terbawa sukma sang bayu
Dan putih silau atau tak berwarna itu
Menembus hitam pekatnya sang batu
Melihat keadaan yang membuntu disertai matahari yang pancarannya beradu
Sebagai embun, aku tak ingin pudar sebelum pagi berlalu.
Hijaulah milikku
Namun mampukah selendang hijau ini
Membiaskan hitam pekatnya sang batu di hatimu
Hahaha, mungkin hanya menghitung bintang
Mencekam hati dan prahara
Tiadakah kau melihat di ujung jagad
Dia mengibarkannya
Untuk satu selendang
Dia mecarimu
Kau, ialah kau sang hijau
Dikalungkan di lehernya.
Aku ingin sehelai selendang hijau itu
Berkibar dibalik kemeja hitam yang kau sandangkan
Kalbu bersyair
Pandanganmu bak tombak menusuk baja, tajam
Dikala api menyambar sukma
Aung…….
Kau mengaung bagaikan serigala membunuh malam.
Tak cukup
Lihat! Hijau reruntuhan itu
Berputar menari terbawa sukma sang bayu
Dan putih silau atau tak berwarna itu
Menembus hitam pekatnya sang batu
Melihat keadaan yang membuntu disertai matahari yang pancarannya beradu
Sebagai embun, aku tak ingin pudar sebelum pagi berlalu.
Hijaulah milikku
Namun mampukah selendang hijau ini
Membiaskan hitam pekatnya sang batu di hatimu
Hahaha, mungkin hanya menghitung bintang
Suara Pengemis di Kaki Waktu
waktu seakan terasing
kecamuk jiwa bersanding
secerca asa berlabu ditalaga bakti
nyanyian akan cinta menggema di hati
mencoba menahan luka serupa goresan belati
sedikit perih meradang
lantunan sesal berkumandang
seketika takdir kelam datang bertandang
berikut cinta semu ikut menghadang-hadang
langkah kaki sempoyongan mengajak hati pecundag
duka tiada lagi tertahan
keluh pun bersujud dikaki Tuhan
kesedihan mengalir dan tumpah perlahan
memenuhi ruang jiwa yang butuh kesembuhan
berharap pula diberi oleh Tuhan segala kemudahan
hidup berkesusahan
di bayang-bayang kesedihan
yang kadang orang lain tertawakan
yang sengaja merobek kantong perasaan
yang hanya terobati dengan sedikit ketabahan
oh Tuhan !
pada takdir-Mu
di antara detak resahku
disela-sela ruas sepi jalan-Mu
izinkan kiranya hatiku ini mengiba
sembari menatap langit rindu wajah-Mu
oh Tuhan !
sudihkah malam-Mu
mengulur sedikit cerahnya
meniadakan gelap lorong sadarku?
sebab aku hanya pengemis di kaki waktu
kecamuk jiwa bersanding
secerca asa berlabu ditalaga bakti
nyanyian akan cinta menggema di hati
mencoba menahan luka serupa goresan belati
sedikit perih meradang
lantunan sesal berkumandang
seketika takdir kelam datang bertandang
berikut cinta semu ikut menghadang-hadang
langkah kaki sempoyongan mengajak hati pecundag
duka tiada lagi tertahan
keluh pun bersujud dikaki Tuhan
kesedihan mengalir dan tumpah perlahan
memenuhi ruang jiwa yang butuh kesembuhan
berharap pula diberi oleh Tuhan segala kemudahan
hidup berkesusahan
di bayang-bayang kesedihan
yang kadang orang lain tertawakan
yang sengaja merobek kantong perasaan
yang hanya terobati dengan sedikit ketabahan
oh Tuhan !
pada takdir-Mu
di antara detak resahku
disela-sela ruas sepi jalan-Mu
izinkan kiranya hatiku ini mengiba
sembari menatap langit rindu wajah-Mu
oh Tuhan !
sudihkah malam-Mu
mengulur sedikit cerahnya
meniadakan gelap lorong sadarku?
sebab aku hanya pengemis di kaki waktu
Rabu, 03 Desember 2014
Lirik Dari Sepasang Mata
Pada sebelah matamu tumbuh taman yang gersang:
Ada ular sebelum mereka melata
Ada pohon luka yang berbuah dosa
Ada sepasang kekasih tanpa pakaian;
kitab-kitab bilang: Adam dan Hawa.
Juga ada sungai yang dulu airnya mengelirkan susu
Iblis sudah tak ada,
Peri pergi bersamanya.
Pada sebelah matamu yang lain ada kota yang gersang;
Orang-orang tinggal di selokan
Buku-buku berdebu di perpustakaan
Tentara-tentara tidak lagi mengangkat senjata;
mereka memegang bunga kamboja.
Tak ada Alim Ulama,
dan pemimpin malah sibuk memuja.
Tapi entah dari mana
pada kedua matamu memancar cahaya
Tapi entah bagaimana
pada kedua matamulah aku meringkuk tak berdaya.
Barangkali dari sepasang matamu
lahir cinta yang terulir sempurna.
Minggu, 19 Oktober 2014
Jelajah pulau FLORES - NTT
![]() |
| Add caption |
Jelajah pulau FLORES - NTT
Pulau FLORES saat ini sudah mulai ditoleh dunia, setidaknya KOMODO sangat membantu menguak rahasia keindahan pulau FLORES bagi para petualang Naturalis saat ini. Jalan raya sudah cukup baik mulai dari LABUANBAJO kota paling barat pulau Flores hingga kota paling timur ini , LARANTUKA. Sudah saatnya kita mulai menjelajah pulau FLORES .
![]() |
| Add caption |
LABUHAN BAJO , Kota nelayan ini adalah pintu gerbang masuk kawasan Taman Nasional KOMODO , baik untuk izin , kapal dan persiapan makanan . kota kecil ini cepat sekali berkambang dalam 10 tahun ini , Menjadi mirip pulau Bali di awal awal tahun 60 - 70 an , dimana para backpacker dunia mulai menjamah Bali yang eksotis . Jangan lupa menikmati sunset dari atas bukit atau cafe di Labuanbajo , luar biasa indah . Pulau KANAWA adalah pulau yang cukup popoler untuk menikmati putihnya pasir di Flores dan biru bergradasi tosca , juga PINK beach , mendakilah ke puncak pulau PADAR , BATU CERMIN .
![]() |
| Add caption |
KOMODO islands . Keindahan bawah lautnya tergolong luar biasa , Komodo pun menjadi ikon yang paling menjual , Binatang purba itu banyak di temui di pulau Rinca , view disana juga sangat menakjubkan
alamnya sangat berbeda dengan Indonesia barat , pantai dan pulau pulaunya juga hebat
![]() |
| Add caption |
WAEREBO , Desa purba ini memang mencapainya sedikit memerlukan kemauan tinggi , harus mendaki dari desa yang sangat terpelosok Desa Denge selama 3 jam trekking naik turun gunung, membelah hutan dan menyusuri Jurang , namun disana anda akan disuguhkan arsitektur perkampungan purba yang teramat unik di wilayah timur Indonesia .

RUTENG , kota di ketinggian sekitar 1.500 mdpl ini berudara sejuk , di kota Ruteng kita bisa menyambangi pesawahan Spider web , danau Ranamese dan Liang Bua , Gua purba ditemukannya belulang tua manusia kerdil/ hobbits, juga juga memiliki satu dua desa tradisional .

BAJAWA , Dari Ruteng jalan lintas flores melalui jalur pantai selatan , nampak Gunung Inerie yang menjulang lancip dan terkadang mengepulkan asapnya , sungguh pemandangan yang eksotik , di Bajawa sendiri juga berhawa dingin , pasar traditionalnya banyak terlihat menjajakan Kopi Bajawa Flores yang sudah terkenal di Dunia , belum lagi Sarung Tenunnya yang khas . Jalan menurun pagi hari menuju desa tradisional Bena dan desa tradisional sekitarnya juga destinasi yang jangan sampe tertinggal .

RIUNG , kepulaan 17. adalah gugusan kepulauan lebih kecil dari kepulauan seribu ,konon jumlah pulau pulau kecilnya mencapai 17 buah lebih , memiliki terumbu karang yang lumayan masih baik , ada juga pulau kelelawar yang di huni oleh ribuan kelelawar , konon disana juga memiliki pulau yang dihuni oleh jenis komodo yang agak berbeda , kepulauan 17 ini memiliki pantai bersih yang putih dan landai pantai yang bergradasi membiru.

KELIMUTU , Terletak di dekat kota Ende , gunung yang kawahnya memiliki 3 warna berbeda sudah menjadi daya tarik turis mancanegara sejak lama , mereka rata rata bermalam di desa Moni , desa kecil yang memiliki beberapa desa tradisional , berudara dingin dan sejuk . Meningmati matahari terbit di KELIMUTU sensasinya mirip engan matahari terbit di Bromo, sedari gelap gulita dipuncak hingga renjana diufuk mulai terlihat, matahari terbit menyibak awan menyelimuti puncak gunung tersebut , sehingga terlihat membentang 3 kawah dihadapan kita , sunggu mempesona !!!

LARANTUKA , kota paling ujung timur pulau Flores ini berhadapan dengan kepulauan Alor Solor yang memiliki beberapa gunung berapi yang cukup aktif , Ile mandiri , Ile Boneng dan Ile Api, luar biasa view disana . Larantuka sendiri setiap tahunnya mengadakan Pesta Paskah arak arakan , seperti acara acara di Italia , membawa patung Bunda Maria berarak di selat Adonara .

Saya yakin masih banyak destinasi lainnya yang cantik cantik namun terlewat oleh kami , sepertinya desa Aimere yang disepanjang jalur selatan banyak masyarakat Rote memasak Minuman air keras khas Flores, juga Desa dimana ibu rumah tangganya semua bertenun ikat .

Jumat, 12 September 2014
"" Jadi, apa yang bisa saya katakan ketika saya tahu bahwa Anda benar-benar membuat saya merasa lebih baik, Anda jelas kesedihan saya dan dicat hidupku dengan matahari pelangi, Tuhan Saya sangat tersentuh dengan orang-orang yang saya bertemu minggu lalu. Nya dari jauh, dan ketika aku membantunya saya tidak pernah berpikir tentang apa-apa, saya hanya berpikir untuk membantu dia dengan hati saya. Dan ketika ia pergi ke perjalanannya Aku tahu bahwa ia tidak pernah lupa saya dan itu benar. Ini adalah salah satu cerita untuk hidup saya, kisah nyata. Saya ingin membuat diri saya selalu percaya bahwa planet bumi berubah perlahan-lahan dan suatu hari aku tahu aku akan bertemu dengannya lagi. Negara romantis akan membantu saya untuk menulis banyak puisi dan cerita tentang cinta, persahabatan dan beberapa pertemuan.
"Taman-taman dan bunga, bulan dan bintang, hati dan jiwa, memiliki cara untuk membawa orang bersama-sama. Kami selalu memiliki waktu yang baik untuk membuat hidup ini berbeda dan indah
"Taman-taman dan bunga, bulan dan bintang, hati dan jiwa, memiliki cara untuk membawa orang bersama-sama. Kami selalu memiliki waktu yang baik untuk membuat hidup ini berbeda dan indah
Minggu, 17 Agustus 2014
ASAL - USUL SUKU BELU
Belu merupakan salah
satu kabupaten yang terletak di pulau Timor/Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Luas
Kabupaten Belu 2445,6 km2.
Ibu kota kabupaten Belu, Atambua sebuah
kota kecil yang terletak 500 meter diatas permuksaan laut. Jarak Kupang dan
Atambua lebih kurang 290 km.
Konon nama Atambua berasal dari kata Ata (Hamba),
Buan (Suanggi/tukang sihir). Dari legenda diceriterakan adanya hamba yang
berani berontak dan melepaskan ikatan tangan (borgol) sehingga tidak terjual
lewat pelabuhan Atapupu, dan malahan akhirnya menyingkir saudagarnya. Nama kota ini kembar
dengan Atapupu (pelabuhan terletak 24 km arah utara Atambua) dari kata Ata
(hamba) Futu (ikat) yang berarti hamba yang diikat siap dijual.
Masyarakat Belu yang terdiri dari
beberapa suku bangsa memiliki pelapisan sosialnya sendiri. Sebagai contoh
masyarakat Waiwiku dalam wilayah kesatuan suku MaraE. Pemegang kekuasaan
berfungsi mengatur pemerintah secara tradisional, pelapisan tertinggi yaitu Ema
Nain yang tinggal di Uma Lor atau Uma Manaran, mereka adalah raja. Lapisan berikutnya masih
tergolong lapisan bangsawan (di bawah raja) yaitu Ema Dato, kemudian lapisan
menengah Ema Fukun sebagai kepala marga. Lapisan terbawah dan hanya membayar
upeti dan menjalankan perintah raja, bangsawan maupun lapisan menengah disebut
Ema Ata (hamba). Pada masyarakat MaraE lapisan social tertinggi disebut Loro.
Mata pencaharian orang Belu tidak beda
dengan masyarakat TTU, dan TTS, yaitu
menanam jagung, umbi-umbuan, kacang - kacangan dan sedikit pertanian padi,
serta bertenak sapi, babi.
Tarian Likurai
dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang didendangkan ketika
menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dalam perang. Konon,
ketika para pahlawan yang pulang perang dengan membawa kepala musuh yang telah
dipenggal (sebagai bukti keperkasaan) para feto (wanita) cantik atau
gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para pahlawan
dengan membawakan tarian Likurai. Likurai itu sendiri dalam bahasa Tetun
(suku yang ada di Belu) mempunyai arti mungasai bumi. Liku artinya menguasai,
Rai artinya tanah atau bumi. Lambang tarian ini adalah wujud
penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau menaklukkan bumi,
tanah air tercinta.
Tarian adat ini
ditarikan oleh feto-feto dengan mempergunakan gendang-gendang kecil yang
berbentuk lonjong dan terbuka salah satu sisinya dan dijepit di bawah ketiak
sambil dipukul dengan irama gembira serta sambil menari dengan
berlenggak-lenggok dan diikuti derap kaki yang cepat sebagai ekspresi
kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali para pahlawan dari
medan perang. Mereka mengacung-acungkan pedang atau parang yang berhias perak.
Sementara itu beberapa mane (laki-laki) menyanyikan pantun bersyair
keberanian, memuja pahlawan.
Konon kepala
musuh yang dipenggal itu dihina oleh para penari dengan menjatuhkan ke tanah.
Proses ini merupakan penghinaan resmi kepada musuh. Selain itu para pahlawan
tadi diarak ke altar persembahan yang sering disebut Ksadan. Para tua
adat telah menunggu di sini dan menjemput para pahlawan sambil mencatat kepala
musuh yang dipenggal itu serta menuturkan secara panjang lebar tentang jumlah
musuh yang telah ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya diperdengarkan kepada
khalayak ramai untuk membuktikan keperkasaan suku Tetun.
Pada masa kini,
tarian tersebut hanya dipentaskan saat menerima tamu-tamu agung atau pada
upacara besar atau acara-acara tertentu. Sebelum tarian ini dipentaskan, maka
terlebih dahulu diadakan suatu upacara adat untuk menurunkan Likurai atau
tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.
Dalam Tulisan ini , kita hendak menyelidiki
sekedarnya soal asal-usul suku Belu, yang menghni hampir seluruh Kabupaten Dati
II Belu. Suku Belu ini berbahasa Tetun, suatu bahasa yang sederhana dan mudah
untuk di mengerti. Bahasa Tetun ini mempunyai persamaannya dengan bahasa-bahasa
daerah lainnya di Indonesia ini. Tetapi mengenai bahasa Tetun ini kita akan
bicarakan sendiri. Disini kita akan bataskan diri pada pokok: Asal-usul Suku
Belu.
Bagian
pertama kita akan uraikan sebagai berikut:
Ø “Asal-usul
orang Belu menurut cerita-cerita yang diwariskan sampai sekarang di daerah
Belu,” kemudian kedua:
Ø “
Asal-usul orang Belu menurut penyelidikan sarjana-sarjana Imu Bangsa-bangsa dan
penyelidikan lainnya.
I.
Asal-usul orang Belu, menurut
cerita-cerita yang diwariskan sampai sekarang di Daerah.
MALAKA
adalah
: tanah asal-usul Belu. Sedari masih kecil bila kita mendengar makoan-makoan
dan orang tua-tua atau pemuka adat membawa syair Tetun HOLA LIA NAIN, maka kita sering mendengar SINA MUTI MALAKA LARANTUKA BABOE. Bila mereka menyebut nama ini,
tiap orang terus tahu, yang dimaksutkan ialah : Tanah Asal Nenek Moyang
Beluyang dulu berlayar dari Malaka, meninggalkan tanah airnya dan mencari
tempat baru untuk dihuninya. Nenek oyang suku Belu dari Malaka dalam
pelayarannya ke Timor, melalui Larantuka.
Berikut ini adalah kumpulan
bermacam-macam cerita dari makoan-makoan dan pemuka-pemuka adat di wilayah
Belu, baik berasal dari Belu utara maupun dari Belu Selatan. Ini di kumpulkan
oleh R.B.A.G. VROK LAGE SVD (±1952) dalam kerjasama dengan para makoan dan
beberapa guru, antara lain Bupati Daswati II Belu sekarang (hingga tahun 1968)
A.A BERWE TALLO, yang mahir berbahasa Belanda dan bertugas sebagai penterjemah
untuk P. VROK LAGE.
1. Menurut Makoan-makoan dari FATUARUIN:
Mula-mula
dating nenekmoyang tiga bersaudara dari Malaka Likansala melalaui Larantuka
(Flores) terus ke Kupang, dari dari Kupang ke Fatumea melalui Hali knain
Kalilin dan terus ke Marlilu. Nama ketiga nenek bersaudara itu : NEKIN MATAUS ke Likusaen, SAKU MATAUS ke kerajaan Sonbai, dan BARA MATAUS tinggal di FATU ARUIN.
2. Cerita
kedua berasal dari DIRMA:
Menurut
makoan disitu : Bei Taeko yang bertempat tingal di Malaka mengirim tiga orang
anaknya lelaki yang berlayar dengan kapal ke Timor, bersama dengan
pengikut-pengikutnya. Dari Sinamuti Malaka mereka berlayarmelalui Betawi dan
Batavia, Kalaban atau Kalabahi, Larantuka-Flores, Babo-Dilly parasa terus ke
Boonaro. Mereka lalu ke Fatumea Raioan atau daerah Portugis. Ketiga putra itu
bernama : LOROSANGKOE, LOROBANLEO, dan LORO SONBAI. Yang
pertama tinggal di Debululik atau Welaka, yang ke dua di sanleo atau Dirma, dan
yang ketiga ialah LORO SONBAI, terus kebagian barat timur ialah kebagian Dawan.
Kemudian membawa lima orang yang dianugerahkan Tuhan: HARE LOROK, BATAR LOROK, MELI (AIKAMELIN), LOROK dan BUI LOROK serta TORA LOROK.
Kelima
orang tersebut di tanam hidup-hidup dalm tanah ke sampai Timor. Dalam tempo
beberapa hari saja tumbuhlah jagung, padi dua maca, jewawut atau tora, kayu
cendana atau aikamelin, di kebun-kebunnya. Kesimpulannya dan cerita ini ialah
jagung, padi, kayu cendana, jewawut, dibawah oleh nenek moyang itu dari tanah
asal Sinamuti Malaka, dan kebun tempat lahan pertanian bagi kelima orang itu
namanya TOOS KUKUN.
3. Dari
NAETIMO:
Menurut
makoan-makoan dari Naetimo nenek moyang pertama asalnya dari Sinamuti Malaka,
melalui Larantuka atau Larantuke, Bauwoe, Parasa atau Timor Dili terus ke
Lakaan dari situ terus ke Nainait. Di nainait mereka menetap. Nenek moyang itu
bernama AGON dengan isterinya LURUK. Mereka mempunyai anak, dan
anak-anak itu membentuk Fukun Hat atau Uma Hat yakni: Empat suku yang terkenal
dengan nama RIN BESI HAT, UMA KAKALUK
KMESAK, UMA FUTUHUR, UMA SUKUR SOU, dan UMA DIN DULUR. Nenek moyang pertama menemui suku asli Belu yakni : MELUS di Naijait.
4. Dari
DAFALA:
Menurut
Dato Katuas Tafala atau nenek moyang TITUS
MORUK, nenekmoyang pertama itu dating dari Sinamuti Malaka melalui Ninobe
Raihenek atau Makasar, terus ke larantukadan Bauwoe sebuah tempat di Larantuka.
Tapi sebelum ke Larantuka mereka dari Makasar melalui Palu Kusu atau dekat
dengan kepulauan Kei, pulau loi, pulau Abe, dan pulau Kae atau Kei. Mereka
mendarat di Hale, LeonSumamar di dekat Timor Dilimereka lantas menyusur Mot
aloes atau sungai Loes, terus Ke Siata mauhalek di Lasiolat. Berjalan terus ke
ren Lakmau, dari situ terus Tua Lasi-Lasi Olat baru kemudian terpencar
keseluruh Belu. Nenek moyang pertama umumnya mendarat dibahagian pantai utara
Belu. Dikatakan pertama nenek moyang itu keluar dari batu, ini dimaksudkan
mereka bertempat tinggal dalam gua-gua batu ketika belum diperdirikan
rumah-rumah yang baik pada saat pertama kali orang di Belu, yang sama seperti
cerita makoan-makoan di Dirma.
Kedua
nenek moyang pertama yang terkenal sebagai Bot Leten dan Bot kraik ialah Bei
Lelar dan Bei Seran Taek, yang punya anak-anak para Lelar dan Abu Lelar serta
Asa Taek dan mau Taek.
5.
Dari LASIOLAT:
Menurut makoan-makoan yang
mula-mula menghuni daerah Fialaran-Lasiolat sebelum kedatangan nenek moyang
suku Leowes dan Asutalin dari Malaka ialah suku Melus, nenek moyang yang
pertama orang Melus bernama LERA BAUK dengan istrinya bernama LENA BAUK. Mereka dianggap penduduk sli Belu sebelum datangnya suku
Belu dari Malaka. Suku-suku yang datangnya dari Malaka ialah suku Leoklaran,
suku Leowes, dan suku Asutalin. Dari Sinamuti Malaka mereka berlayar terus ke
Larantuka –Bauboe, terus ke Hasan Maubesimendarat di Weto ke Lakaan dan dari
situ ke Mota Weluli Mauhalek. Mereka menemukan seorang Melus pertama yang
mendirikan rumahnya di Nawan Ruas, Aufatuk. Disebut Aufatuk karena rumahnya
terbuat dari bambu dan batu. Pemuda-pemuda suku Leowes mengawini gadis-gadis
dari suku Loro Bauho, bernama Balok Lorok dan Ello lorok. Mereka lalu pindah
dengan anak-anaknya ke Dualasi dimana orang-orang Melus dan Asutalin sudah
lebih dahulu membuat kampungnya. Dualasi kemudian mendapat nama Dualasi
Sosebauk. Orang-orang pertama yang mendarat di Timor ialah Luli Luan dan Lete
Luan. Asutalin juga kemudian mendarat di pantai selatan Belu. Tempatnya yang
lain ialah Aidikur dari situ juga mereka ke Lakaan dan terus ke Dualasi. Dari malak Asutalin bawa serta anjing. Suku
Asutalin haramm makan daging anjing dan tidak membunuhnya.
Nenek moyang suku Leoklaran dating
lebih dahulu dari suku Leowes, dan Asutalin dan mengalahkan suku Melus ke
Tasimane lainnya dibunuh dan hanyut terbawa arus. Yang sisanya masih ada di
Haliren, Aikamelin, rend an Motaain. Dalam mengalahkan suku Melus itu ada
kerjasama dengan suku Leowes yang datang kemudian itu. Setelah suku Melus itu
diusir dan dikalahkan oleh suku Leoklaran dan Leowes mula saling berebut
kekuasaan ini, suku Leowes yang kemudian yang akhirnya menduduki tahta dan
berkuasa sebagai raja diFialaran sampai kini. Caranya ialah bukan saling
memerangi, melainkan dengan menguji ketangkasan dan kecerdasan saja. Siapa yang
cepat makan ialah yang berkuasa dan waktu nenek moyang Leowes pergi mencari
musang dihutan, nenek moyang Leoklaran disuruh memanjat pohon, dibawah pohon
tertancap tombak mas, oleh nenek moyang Leowes. Entah bagaimana jadinya nenek
moyang Leoklaran jatuh dari pohon dan persis perutnya tertikam pada tombak mas
tadi, dengan itu nenek moyang Leowes yang berkuasa . Namun selanjutnya hubungan
antara suku Leowesa dan suku Leoklaran , pun sampaikini tetap erat lebih
dipererat oleh perkaeinan antara dua suku.
6. Dari
ASUMANU:
Menurut makoan dari Asumanu nenek
moyang pertamanya datang dari Malaka dengan sebuah kapal namanya Batarian,
mendarat dipuncak Lakaan yang merupakan daratan yang muncul waktu itu dari air
(agaknya yang lain masih merupakan tempat yang masih digenagi air laut). Kapten
kapal itu namanya Mangelains, apakah itu yang dinamakan dengan Magelhaens??
7. Dari
AITON:
Menurut
makoan-makoan dari Aitoun nenek moyang pertama datang dari Sina Mutin Malaka
dengan tiga buah kapal:
a. Kapal
yang dijuluki dengan Ro Manu Lain, Biduk Manu Lain.
b. Rokfautahan,
Biduk Kfautahan
c. Ro
Mara Does, Biduk Mara Does. Tempat lainnya disebut HeranBa weluli, Aitoun rua
mane, Foho sabu Lakan kaisahe.
8. Dari
MAUMUTIN:
Makoan-makoan
maumutin menceritakan tentang asal-usulnya bahwa nenek moyang pertama datangnya
dari Sina (Siam/birma) dan dari Sina Mutin
Malaka Melalui Larantuka Baboe, lamahala (Adonara) Lamahera (lomblen)
terus ke Kamera (dekat Timor Dili). Kemudian kembali ke Lamalera untuk
mengambil istri dari sana. Kemudian mereka kembali lagi ke Sina Mutin Malaka
karena tidak dapat istri di Lamalera. Dimalaka mereka dapat memperoleh istri
dengan kayu cendana yang dibawanya. Di Maumitin sendiri kayu cendana tidak ada
karena itu kemudian nenek moyang pindah ke Maukatar didaerah bagian portugis . Untuk
memperingati nenek moyang yang datang dengan tiga kapal itu, didirikan tiga
foho (tugu kecil) : Foho Liurai, Foho Tahan Leki Bauk Leowalu.
9. Dari
LIDAK:
Nenek
moyang datang dari Sina MUtin Malaka melalui Larantuka Baboe We bau, Asufuik,
Maubesi, Wehali lalu terus ke Lidak. Sumber lainnya menggatakan mereka mendarat
dipantai utara Timor di Timor Dili Parasa. Dari Parasa mereka juga membawaair
dan ketika mereka mendarat direceki tempat itu denga air. Mereka hanya
mengetahui bahwa orang melus bertempat tinggal di Silawan. Kemudian menyusul lagi beberapa suku
yang kelak akan berkuasa di Belu. Mereka datang dari Malaka nenek moyang ada
tujuh pasang, empatnya tinggal di Malaka tiganya berlayar ke Timor melalui
Larantuka-Bauboe, satunya tinggal di Fatumea, kedua tinggal di Leowalu (dimarae0
dan yang ketiga tinggalnya di Motaain, namanya Dasi Bada Rai.
10. Sabu
Mau-Belu Mau dan Timau:
Adalah
suatu yang sangat populer dikalangan penduduk Belu dan Sabu Rote ialah mengenai
asal-usul mengenai nenek moyang suku Belu dan Sabu Rote. Demikian sudah dari
kecil kami sudah mendengar cerita tentang Belu Mau, sabu Mau, dan Ti Mau dari
orang tua dan kakek kami. Ketiga nenek ini adalah beradik kakak. Sabu Mau dan
Ti Mau bersama dengan seluruh keluarganya berlayar dengan kapal ke Timot dan
mendarat di bagian utara Belu yakni di teluk Gurita (di Atapupu) yang turun
kedarat untuk mencari tempat tinggal baru di daerah Belu sekarang ialah Belu
Mau dengan keluarganya. Sedang kedua nenek Sabu dan Ti Mau berlayar terus
kearah barat Timor, menyususr pantai untuk mencari tempat tinggalyang baru dan
tempat dan untuk di milikinya. Tapi sebelum ketiganya berpisah, diadakan
perjanjian berikut : “Bila kelak mereka bertemu kembali atau anak-anak maupun
turunan mereka, tidak boleh saling mengawini, tidak boleh saling berperang, saling
mnerima dan menganggap sebagai kakak-beradik atau saudara-saudari sekeluarga
saja”. Perjanjian ini masih di ingat
samapai dengan saat ini, meskipun masih ada praktek kawin mwin sudah sering
terjadi antara suku Belu dan suku rote. Untuk saling memerangi atau berkelahi
sampai sekarang ini, masih tetap dihindarkan mengingat perjanjian ketiga nenek
bersaudara tadi.
II.
Asal-usul suku Belu (Sabu – Rote)
menurut penyelidikan
Ahli-ahli Ilmu Bangsa-bangsa dan
Ahli-ahli lainnya.
Sudah banyak ahli-ahli yang
menyeliki suku Belu (dan Rote), disamping penyelidikan – penyelidikan utama,
seperti: Grijzen, H.J. (mededeelingen Omret Beloe of midden Timor. V.B.G.,
Batavia, vol.54, Bag.III) dan vrok lege. B.A. (1953) : Ethnogogihie der Belu in
zentral Timor, Leiden, dalam 3 jilid. Dalam menyelidiki Suku Belu mereka dari
pandangan yang hampir serupa. Demikian seperti :
1. Heijmering
G. (Geschiedenis van Timor, 1847, vol. 9, bagian III, pg. 1 – 62 dan 121 -232),
dan veth, P.j. (Het eiland Timor, De Gids, Amsterdam, Vol.19. Bgn. I, pg. 545 –
611 dan 695 – 737 : bgn. 55 – 100), dalam tahun 1985”, dan juga Bastian A.
(1885 – Timor Und Umliegende Inseln. in Indonesian oder die inseln des
Malayischen Archipels, Berlin, Lieferung 2, pg. 1 -31). ketiga penyelidik itu
berpendapat bahwa, bahwa ada perbedaan yang nyata antara suku Belu dan suku
asli Timor : susku Atoni. menurut mereka suku Atoni lebih mirip dengan orang Papua,
sedang suku Belu punya kesamaan yang besar dengan penduduk di bagian barat
indonesia.
2. Menurut
pandangan-pandangan antopolog modern : Timor serta pulau-pulaunya adalah suatu
daerah peralihan di mana bertemu dan saling pengaruh antara komponen ras Melayu
Indonesia denganras Melanesia (in sensu lago). Agaknya suku marae dan kemak
menunjukkan elmen Melanesia yang lebih tua, dari pada suku Belu dan Sabu Rote
yang baru masuk kemudian di Timor. Suku Belu dan Rote nyatanya memiliki tempat
tinggi yang paling tampan, ditanah rata sepanjang pantai dan terus ke
pedalaman, namun di sepanjang lembah sungai lalu sepanjang jalan. Antropolog-antropolog
sependapat bahwa unsur Melanesia nampak sangat kuat pada penduduk asli Timor :
suku Atoni di Dawan (orang pegunungan yang jumlahnya kira-kira 300.000 penduduk
mendiami daerah-daerah pegunungan Timor Indonesia. Tokoh badan mereka agak
berlainan dengan tetangga-tetangganya: suku Belu-Sabu-Rote dan Kemak Marae. Mereka
agak pendek dengan bentuk tengkorak Brachichepel (tengkorak pendek) dengan
warna kulitnya coklat kehitam-hitaman, rambutnya keriting, sangat mirip
orang-orang papua. (cf. ormeling, F.J. Dr. The Timor problem, 1957 hal. 66-67).
3. Menurut
penyelidikan Biljmer, H.J.T. (outlines of Antropology of the Timor Archipelago,
Weltevreden-Batavia, 1929, pg. 92-92-95—97-99), bahwa pada individu-individu suku
bangsa Belu nampak ciri-ciri ras Negroit secara berdampingan atau campur baur. Sedangkan
pda suku Atoni (dawan) nampak ciri-ciri Melanesoit dan Australoid. Dia berkesan
bahwa pada suku Atoni ia tidak rasa lagi bahwa ia di antara orang Melayu. Mereka
merupakan kesatuan. Dia menyelidiki juga suku Manggarai dan mendapatkan adanya
ciri khas tipe semitis pada mereka. Pada suku Ngada terdapat tipe Melanesoid. Pada
suku Adonara (dan Flotim) ada tipe semitis, Negroid dan Papua. Demikian Biljmer.
4. Menurut
nona Keers W. (an Antropological Survey of the estern litllesunda island
Mededeelingen no. 74 diterbitkan oleh Koninklijke verehining indisch institut,
Amsterdamtahn 1948) bahwa ciri-ciri Melanesia agaknya tersebar dibanyak tempat
di Timor. Tetapi yang dianggapnya utama ialah apa yang dinamakan proto Melayu
yang besar pengaruh di Timor. Tapi yang dianggapnya utama ialah apa yang
dinamakan Elemen proto Melayu, yang
bear di Timor, dan rasini yang membentuk penduduk sekarang juga. Inilah juga
pendapat Biljmer (1929) dan Lamres (1948) yang memastikan bahwa unsur Melayu
yang lebih muda benar-benar terdapat di daerah Belu selain unsur Melanesia.
5. Mengenai
suku Marae dan Kemak, yang ada di Belu Menurut Grijzen (1904) kira-kira mereka
sudah tinggal lama di Belu.
6. Menurut
Nona Keers (1948) susku Marae Kemak, yang ada di Belu berbeda dengan suku
Melayu Indonesia karena frekwensi yang tinggi dan tengkorak kepala yang
berbentuk Delichecephalik (tengkorak lonjong) dan tokoh badan yang jauh lebih
tinggi.
7. Menurut
Capel (1944) bahwa Buna(bahasa Marae) mirip sekali dengan bahas-bahasa papua. Sedang
menurut Nona Keers 91948) susku Kemak punya pertalian erat dengan suku Marae. Bahasanya
mirip sekali dengan bahasa Buna (caell 1944).
8. Mengenai
suku Rote-Sabu seperti telah di katakan tadi seasal dengan suku Belu. Mereka datang
berkelompok-kelompok, lain turut Flores lainya lagi via Timor. Tanah asalnya
pulau Seram (?) menurut ten Kate (1849) bahasa dan kebudayaan Rote sama dengan
Belu. Hanya Rote mempunyai unsur Melayu lebih kuat.
9. Terra
(1953) punya anggapan bahwa yang mula-mula punya usaha sawah dan ladang ialah
suku Belu.
10. Dalam
ENCHIKLOPEDIA VAN NEDERLANDS OOST INDIE IV LEIDEN, 1921 pda halaman 323,
dibahas juga tentang penduduk dari Malaka melalui Sulawesi-Flores (larantuka)
terus ke Timor. Juga tentang adat-istiadat Belu dan keadaandaerahnya.
11. H.K.J.
Cowan (1963) menyelidiki, bahwa bahasa Buna termasuk salah satu bahasa Irian Barat. Diantara lain
menyebut beberapa kata seperti (n) iri, su, batohul, bi, pana, per, nei, ei,
yang mirip betul dengan kata-kata dalam bahasa Irian Barat. (cf. Eydarg. T.,1. en
volk, jgr. 1963, pg 387 - 400) sedang Louis Berthe (1959) dalam penyelidikannya
di Lamaknen mendapat kepastian juga bahwa dalam bahasa Buna terdapat kata-kata
yang mirip dengan kata-kata Melayu purba (Deutero Melayu). (cf. Eydarg. T.,1. en volk, 1959, pg 336 dan
seterusnya).
12. Abdul
Hakim (1961), juga memuat karangannya
tentang Timor, di dalamnya dituliskan tentang apa yang di dengarnya sendiri
mengenai asal-usul orang Belu yang datang dari Malaka dan adat istiadatnya di
Timor, di Belu khususnya.
LIKURAI, TARIAN SANG PENAKLUK DARI PULAU TIMOR
Sobat netter pernah dengar ga? tarian Llikurai! Tarian Likurai merupakan salah satu tarian tradisional dari pulau timor. Kebanyakkan orang bilang pulau timor adalah pulau gersang yang miskin sumber air dan ditaburi begitu banyak bukit berbatu ketimbang lahan subur untuk digarap. Terlepas dari itu semua. Pulau Timor memiliki banyak kekayaan yang terkandung dalam seni budaya, adat istiadat serta asal usul antropologi manusianya yang apabila diusut akan semakin kusut. Hal ini yang membuat banyak warga asing untuk mengeksplorasi ketimbang para pribumi yang tidak menyadari nilai dalam nafas mereka sendiri.
Tarian Likurai merupakan salah satu tarian tertua yang ditarikan sebagian besar penduduk di pulau Timor (Timor Indonesia maupun Timor Leste). Likurai merupakan tarian yang di dendangkan. Pada jaman dahulu tarian Likurai dilakukan oleh para wanita untuk menyambut para prajurit yang pulang dari peperangan.
Likurai berasal dari dua suku kata. Liku yang berarti menguasai dan Rai yang berarti tanah. Jadi tarian ini berarti “ menguasai bumi”. kata ini berasal dari klan Tetun yang paling dominan di pulau Timor. Namun demikian tarian ini juga ditarikan oleh klan-klan lain dan menamainya menurut bahasa mereka sendiri. Klan Buna menyebutnya Teberai, klan Kemak menyebutnya Dudubau serta klan Tetun selatan menyebutnya Taes Bibliku. Apapun sebutannya, tarian ini tetap merepresentasikan satu hal. Yaitu ”penghormatan bagi mereka yang menguasai bumi”.
Tarian ini ditarikan oleh sekelompok perempuan sambil menabuh tibar (gendang) yang diselipkan di ketiak mereka. Para penari ini akan membentuk dua barisan dan di depan tiap barisan berdiri dua orang pria yang memakai giring-giring kaki sambil membawa kelewang (pedang). Dahulu, para penari pria diwajibkan untuk memakai tais (kain) untuk kaum pria dan sarung untuk penari perempuan yang kesemuanya harus ditenun dari bahan-bahan alam dan bukan olahan pabrik. Para penari perempuan yang ada di barisan paling depan harus berasal dari kaum keluarga raja/bangsawan. Namun seiring berputarnya jaman, para penari kini telah memakai pakaian olahan pabrik, seperti kemeja dan kebaya. Dalam barisan para penari pun tidak ada lagi perempuan yang berasal dari kaum bangsawan.
Tarian ini diawali dengan tabuhan tibar salah seorang penari dan disusul oleh penari lain. Ketika kekompakan irama telah dicapai maka mereka mulai meliuk-liukkan tubuh ke kiri dan kekanan, terkadang sambil berjongkok dan membentuk formasi tertentu. Para penari pria akan menghentakkan giring-giring kaki mereka sambil mengacungkan kelewang di tangan. Mereka pun mulai berpantun dan mendendangkan syair-sayair kemenangan diselingi pekik-pekik peperangan. Tabuhan tibar ini kian lama akan kian cepat dan keras, begitu pula dengan gerak tubuh para penari. Terkadang para penari ini akan serempak berhenti bergerak sehingga menimbulkan keheningan yang spontan. Secara umum tarian ini tampak cantik, enerjik serta mampu membangkitkan bulu kuduk. Meski memakai alat musik yang sama, namun setiap klan memiliki iramanya sendiri-sendiri sehingga kita mampu mengenali klan mana yang tengah menari tanpa harus melihat.
Tibar, alat musik yang dominan dipakai dalam tarian ini bentuknya menyerupai tifa namun lebih lonjong dan ramping.
Jika sempat berkunjung ke Timor, jangan berharap bisa menyaksikan tarian ini dengan mudah kecuali anda datang sebagai tokoh masyarakat. Likurai kini beralih fungsi sebagai tarian selamat datang semata dan posisinya kian bergeser. Dahulu tarian ini selalu dipentaskan saat HUT RI sampai ketingkat pusat serta dipentaskan dalam upacara-upacara adat/keagamaan. Likurai juga ditampilkan sebagai tarian pembuka sebelum acara dansa ala barat dimulai dalam pesta pernikahan rakyat. Tetapi kini di kota-kota besar Timor, terutama di tempat asalnya Belu, ia bahkan tidak termasuk dalam kurikulum pendidikan sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler bagi anak-anak yang menjadi penerus tradisi. Jumlah para penari pun kian berkurang. Lebih banyak kaum ibu yang menarikannya ketimbang para gadis. Entah karena malu atau latah dengan globalisasi, para anak muda lebih menyukai hal-hal berbau urban culture ketimbang tradisi sendiri. Memang nasib Likurai belum sesekarat saudaranya “sasando” dari pulau rote yang baru mendapat nafas buatan dari pihak Pemda setelah kurang lebih sepuluh orang di Indonesia yang menguasai alat musik ini. Namun apabila tabuhan tibar kian terpojok hingga ke pelosok, pastilah ajal Likurai akan sampai di tangan si empunya sendiri.
Menyelamatkan Likurai harus diawali dengan kesadaran sang empunya sendiri. Bahwa tarian ini bukan sekedar ikon, tetapi suatu identitas diri yang menyatakan keberadaaan akar suatu klan di tengah beragamnya budaya Indonesia. SETUJU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Senin, 21 Juli 2014
AKU INGIN MATI, AKU BOSAN DENGAN HIDUP INI
Seorang pria setengah baya mendatangi salah satu dokter langganannya, “Dokter, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Dokter pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Dokter, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Dokter meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.” Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Dokter.
“Tidak Dokter, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Dokter.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
Setelah berpikir sejenak sang dokter masuk ke ruang pribadinya, kemudian keluar dengan membawa 3 botol berisi cairan khusus. Ambillah 3 buah botol ini. Diminum setiap hari satu botol mulai sore ini. 3 hari lagi kamu akan mati dengan sangat tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Dokter lain yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarinya racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati karena keinginanya untuk mati sudah bulat.
Pulanglah ia ke rumah. Ia langsung menghabiskan 2 botol yang disebut "racun" oleh dokter tersebut. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana ia tidak pernah rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai. Tinggal 3 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah “pikirnya dalam hati”.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran dengan nuansa romantis. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasana penuh kekeluargaan.
Sebelum tidur, ia mencium kening istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah.
Ia ingin membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tapi bagaimana dengan 2 botol racun yang sudah ia minum, sore sebelumnya? ” Ya Tuhan, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Tuhan. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini.”
Ia pun buru-buru mendatangi sang dokter yang telah memberi 3 botol racun kepadanya. Sesampainya di rumah sang dokter tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Melihat wajah pria itu, rupanya sang Dokter langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang Dokter pun berkata “Buang saja sisa 1 botol racun itu. Isinya hanya air putih biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kita hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemput kita kapan saja, dan dimana saja, maka kita akan menikmati setiap detik kehidupan kita. "Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu."
"Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami sang dokter, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)













