Kamis, 09 Mei 2013
Minggu, 05 Mei 2013
"wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu" penuhi janji kepada Allah dan manusia
penuhi janji, atau jangan berjanji bila sudah tak mampu penuhi, jangan menambah janji hanya akan mengiris luka lagi
benar-benar pada janji terdapat asa bagi yang terjanji dan asa akan berubah jadi luka bila belum tertunai
dan bila syahadat adalah janji setia pada Allah Tuhan Semesta maka pernikahan adalah janji setia pada istri sang buah mata
untuk lelaki menunaikan janji bukan prestasi namun sebuah kewajiban yang harus dipenuhi
karena setiap janji yang tak tertunai adalah aib yang menjadi rekam jejak atas tanggung jawab
maka lelaki yang sejati tak pandai umbar janji karena setiap janji bernilai pertanda harga diri
lelaki dilihat dari kata-katanya bila sudah berdusta tiada apa yang bisa dipercaya
penuhi janji, atau jangan berjanji bila sudah tak mampu penuhi, jangan menambah janji hanya akan mengiris luka lagi
benar-benar pada janji terdapat asa bagi yang terjanji dan asa akan berubah jadi luka bila belum tertunai
dan bila syahadat adalah janji setia pada Allah Tuhan Semesta maka pernikahan adalah janji setia pada istri sang buah mata
untuk lelaki menunaikan janji bukan prestasi namun sebuah kewajiban yang harus dipenuhi
karena setiap janji yang tak tertunai adalah aib yang menjadi rekam jejak atas tanggung jawab
maka lelaki yang sejati tak pandai umbar janji karena setiap janji bernilai pertanda harga diri
lelaki dilihat dari kata-katanya bila sudah berdusta tiada apa yang bisa dipercaya
"'Aku Terlahir dalam sebuah keluarga sederhana.. dibesarkan dengan sederhana, diajarkan kesederhanaan, hidup sederhana dan semuanya sederhana-sederhana saja. begitupun cintaku kuberikan sederhana , apalagi maafku sederhana untukmu , tak perlu kaya ataupun mahal apalgi rumit karna aku percaya dalam kesedrhanaan selalu ada kebhagiaan yg luar biasa serta ketulusan yang takkan perna mati.. karna kekayaan sesungguhnya ada di dalam itu semua .. jika engkau sahabt menyakiti aku sahbat selalu siap memaafkanmu .
Sabtu, 20 April 2013
jangan katakan "percuma hijab kelakuan jahat" | tapi berhijablah dan berlakulah baik agar engkau jadi contoh
jangan bilang "percuma shalat masih maksiat" | tapi shalatlah dan taatlah agar engkau jadi teladan
daripada menunjuk-nunjuk dengan tanganmu | lebih baik tunjukkan kebaikan lewat dirimu
pintar mencari kesalahan orang | tak membuatmu otomatis benar
banyak yang berbuat salah | tidak berarti engkau harus ikut-ikutan
"mendingan pacaran tapi hijab, atau hijab tapi pacaran" | syaitan memang pintar berlindung dari kata "mendingan"
tidak ada kata "mendingan" dalam dua kemaksiatan | yang boleh kata "mendingan" dalam dua ketaatan
yang baik dari sesama tentu jadikan contoh | yang jelek dari saudara jangan jadikan penghalang
ketaatan nggak perlu alasan | maksiat nggak perlu legitimasi | toh Allah menghitung amal kita sendiri-sendiri
jangan bilang "percuma shalat masih maksiat" | tapi shalatlah dan taatlah agar engkau jadi teladan
daripada menunjuk-nunjuk dengan tanganmu | lebih baik tunjukkan kebaikan lewat dirimu
pintar mencari kesalahan orang | tak membuatmu otomatis benar
banyak yang berbuat salah | tidak berarti engkau harus ikut-ikutan
"mendingan pacaran tapi hijab, atau hijab tapi pacaran" | syaitan memang pintar berlindung dari kata "mendingan"
tidak ada kata "mendingan" dalam dua kemaksiatan | yang boleh kata "mendingan" dalam dua ketaatan
yang baik dari sesama tentu jadikan contoh | yang jelek dari saudara jangan jadikan penghalang
ketaatan nggak perlu alasan | maksiat nggak perlu legitimasi | toh Allah menghitung amal kita sendiri-sendiri
Selasa, 16 April 2013
Senin, 15 April 2013
Minggu
Aku menunggu kian terteggun tak meragu
Sabtu bicara,
"Ku pikir akulah yang terindah pada hari..
Tidak Sabtuku,
penghujung waktu sepekan masih minggu yang kunanti
Derai derapan berdering mendetakkan waktu demi waktu
Ada siapa saja dibalik pagi, siang, ataukah malam??
Entahlah.. sekiranya cawan tertanam dalam beningnya suci membaca hati
Air mata kasih menetes pada
gambaran embun tuk
membasu jiwa-jiwa yang membara
Gemericik aliran lembut
hempaskan bebatuan berlumut tipis
Dan seribu pipit bersiul merdu
bak seruling lagukan nyanyian alam
Lalu ciptaan Tuhan yang mulia
bergembira serukan kebesaran cinta
Oh Tuhanku..
betapa mulianya semua ini,
semua itu dan segalanya
Terimalah syukur dan pji-pujianku
yang kan mengarung jauh
Kelak syairku menjadi doa
dalam bisikan-bisikan gerimis
Kubuka Sejarah Lama
Seperti mimpi terang
Pagi itu datang tanpa mengintip
Risau memisahkan rasa
dari rasa yang terbila pisau
Bagaimana mungkin
aku menangis menjerit dalam seduh
Saat semua kata selalu sama saja
aku kembali pada waktu yang pergi
Memutar memori buka sejarah lama
Di sana terukir kisah seribu nyawa
Darah mengalir bak
sungai bergulir bebas lelap
Kumainkan intonasi
bersemangat dalam kesedihan
Darimana datangnya sang penguasa itu
Menjajah tanpa jiwa,
hanya raga semakin kekar
Aku benci membaca surat-surat kusam
Aku tak suka janji-janji palsu
Lihatlah pahlawanku,
berikan nyawa seutuh hati
Meninggalkan perjuangan dan pergi tanpa pamri
Duniaku lama sudah terjajah,
terperangkap dalam belitar berduri
Aku terniang mendayung terbawa arus cerita
Sungguh luar biasa bangsaku pahlawanku.*
Sabtu
Bagaimana dengan Sabtu?
Ada hati yang trus bertanya, Kapan ...?
Kapan aku bisa memiliki Sabtu yang indah..?
Kappa aku bisa merasakan Sabtu pada Senin..?
Bingung tak perlu kuhadirkan pada Sabtu
Semua tentang Sabtu aku tahu banyak yang rindu
Lama sekali adikku manis
Penghujung waktu selain minggu
Adakah cinta yang memerah pada Sabtu?
Ketika memikirkannya aku ingin mematuhinya
Tidak! kata sang malaikat ternama
Sabtu manjakan aku tuk menikmati kepergian lelah
Dari satu hingga enam aku tak ingat selain Sabtu
Dalam coretan setiap abadi aku ingin sabtu hadir
Dari timur hingga barat aku hanya ingat sabtu
Sabtu buat aku pulang saudaraku...
Sabtu buat aku berkumpul bersama keluarga
Sabtu buat aku tinggalkan tempat bertugas sepekan
Terima kasih Sabtuku...
Tak Setatap
Semusim bersemi
menyemir langit-langit kusam
Kembali membiru sempurna
menanti hadirnya purnama
Sampai jauh kesana
aku masih ingat sahabat
Jangan ragu ataupun malu
merayu ombak tuk dayungkan semua masa
Tanganku melambai memanggil semua mata
Ingin hati menatap ratapan-ratapan seduh ini
Tapi mentari pagi coba pulihkan
senyumku tuk kembali memoles lembut
Pikirmu apa kekasih?
Jangan sekadar engkau tau
betapa bersedihnya aku
Tanganmu berkeriput
kian menepuk eratan yang terasa trus mengering
Menahan peri saat merampas
semak-semak berduri
Mungkin kakanda tak mengerti
fikirku tertuju pada siapa di padang menghijau
Dengarlah Duhai pangeran Kasih...
Itu sebuah kisah bukan
klasik demikianpun sejarah
Itu nyata saat kau berbalik menelaah
Dia tak setatap dengan
kedua mata indahmu yang berkaca
Biar ku katakan padamu sang raja
Sesungguhnya ia setatap
dengan kedua tumpuanmu
yang bersepatu
Merunduklah
bak padi menguning dari tangannya
Lihat betapa perkasanya
ia berusaha mencuil nasib
demi segenggam masa depan
Bukan hanya atau sekedar untuknya seorang
Melainkan aku, dirimu,
dirinya bahkan mereka yang entah darimana
Berilah senyummu
meski sepetik deringan gitar bermelodi
Doamu berirama satu nada
PECINTA DUNIA
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Tangan menggenggam, kepanikan
Lengah dari kerumunan sekitarnya
Pecinta Dunia mungkin terisolasi
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Boros tertawa dan ceria
Dalam perusahaan mencintai satu sama lain
Dunia mereka mungkin telah terisi kesenangan
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Menuangkan hujan atau terik bersinar
Sepertinya tidak pernah menjadi semacam pengganggu
Mereka mungkin terikat kebahagiaan dunia
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Jarang ditemukan di rumah mereka sendiri
Tampaknya telah mendirikan rumah sendiri
Mereka mungkin keluar dari dunia ini sangat
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Tangan menggenggam, kepanikan
Lengah dari kerumunan sekitarnya
Pecinta Dunia mungkin terisolasi
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Boros tertawa dan ceria
Dalam perusahaan mencintai satu sama lain
Dunia mereka mungkin telah terisi kesenangan
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Menuangkan hujan atau terik bersinar
Sepertinya tidak pernah menjadi semacam pengganggu
Mereka mungkin terikat kebahagiaan dunia
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Jarang ditemukan di rumah mereka sendiri
Tampaknya telah mendirikan rumah sendiri
Mereka mungkin keluar dari dunia ini sangat
Tak Setetap
Semusim bersemi
menyemir langit-langit kusam
Kembali membiru sempurna
menanti hadirnya purnama
Sampai jauh kesana
aku masih ingat sahabat
Jangan ragu ataupun malu
merayu ombak tuk dayungkan semua masa
Tanganku melambai memanggil semua mata
Ingin hati menatap ratapan-ratapan seduh ini
Tapi mentari pagi coba pulihkan
senyumku tuk kembali memoles lembut
Pikirmu apa kekasih?
Jangan sekadar engkau tau
betapa bersedihnya aku
Tanganmu berkeriput
kian menepuk eratan yang terasa trus mengering
Menahan peri saat merampas
semak-semak berduri
Mungkin kakanda tak mengerti
fikirku tertuju pada siapa di padang menghijau
Dengarlah Duhai pangeran Kasih...
Itu sebuah kisah bukan
klasik demikianpun sejarah
Itu nyata saat kau berbalik menelaah
Dia tak setatap dengan
kedua mata indahmu yang berkaca
Biar ku katakan padamu sang raja
Sesungguhnya ia setatap
dengan kedua tumpuanmu
yang bersepatu
Merunduklah
bak padi menguning dari tangannya
Lihat betapa perkasanya
ia berusaha mencuil nasib
demi segenggam masa depan
Bukan hanya atau sekedar untuknya seorang
Melainkan aku, dirimu,
dirinya bahkan mereka yang entah darimana
Berilah senyummu
meski sepetik deringan gitar bermelodi
Doamu berirama satu nada
merangkai dalam melodi cinta
Jumat, 12 April 2013
PECINTA DUNIA
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Tangan menggenggam, kepanikan
Lengah dari kerumunan sekitarnya
Pecinta Dunia mungkin terisolasi
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Boros tertawa dan ceria
Dalam perusahaan mencintai satu sama lain
Dunia mereka mungkin telah terisi kesenangan
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Menuangkan hujan atau terik bersinar
Sepertinya tidak pernah menjadi semacam pengganggu
Mereka mungkin terikat kebahagiaan dunia
Mereka berada di dunia mereka sendiri
Jarang ditemukan di rumah mereka sendiri
Tampaknya telah mendirikan rumah sendiri
Mereka mungkin keluar dari dunia ini sangat
Detik Terujung
Mata
Menanti mentari takjua muncul
Bukan sebagai penghangat tubuh dingin
Namun sebagi penerang jalanku
Menuju cahayaMu
Apakah umur bisa menentu
Apakah usia bisa tersisa
Dikala ujung kembali tersambung
Memutar ulang kisah lama
Semua sama samar
Semua sama hingar
Dibatas terujung tanpa detak
Di batas terujung aku tersesat
Kembali pada kisah
Di mana semua salah
Ah….
Apakah detik itu tak juga berujung
Berputar dari sisi ke sini
Membawa bunyi segaris miris
Menati ucapan maaf disela gerimis
Kepada Seorang Ayah yang berbahagia,
Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang
kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu
Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini
seperti hari kemarin, aku hanya bisa membisu
coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan
kepadamu yang kini duduk menyaksikan ilham Allah
merasuki tulang-tulang tuamu.
Adakah aku akan melihat orang tuaku
sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu
yang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku
yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar,
mungkin hendak berteman dengan air matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang
kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu
Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini
seperti hari kemarin, aku hanya bisa membisu
coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan
kepadamu yang kini duduk menyaksikan ilham Allah
merasuki tulang-tulang tuamu.
Adakah aku akan melihat orang tuaku
sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu
yang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku
yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar,
mungkin hendak berteman dengan air matamu
Maaf saya tidak dapat menemukan judul yang tepat
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin ....
getaran itu semakin lama semakin sayup... perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi anak-anak ingusan
tak terdengar mereka oleh gesekan angin
Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa
maka bangsaku hendak menggunakannya pula
mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan
mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah
aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai
tersebar ke seluruh tubuh
berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel
Maaf jika hidupku adalah demokrasi
nampaknya ia tak punya judul lagi
kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup
seperti jiwa Chairil Anwar
namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian
yang mendorongku untuk mengakhiri hidup
the object of my affection telah mati
bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin ....
getaran itu semakin lama semakin sayup... perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi anak-anak ingusan
tak terdengar mereka oleh gesekan angin
Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa
maka bangsaku hendak menggunakannya pula
mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan
mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah
aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai
tersebar ke seluruh tubuh
berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel
Maaf jika hidupku adalah demokrasi
nampaknya ia tak punya judul lagi
kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup
seperti jiwa Chairil Anwar
namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian
yang mendorongku untuk mengakhiri hidup
the object of my affection telah mati
bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur
| Aku dan Tulisanku Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku tak pernah menulis satu kata? Adakah orang akan mencari namaku ketika aku tak pernah meninggalkan kesan? tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku jari-jariku bekerja dengan otakku tapi tidak dengan diriku diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa diriku adalah susunan tulang daging darah yang mungkin telah menyerap barang haram diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku? Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang diproduksi oleh niatku yang subjektif tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia sementara aku tak pernah berbuat yang sama kepada tulisanku.... |
Rabu, 10 April 2013
Di heningan malam
Ku buang semua kertas
Ku hapus memori yang membekas
Berharap bayangmu kan lepas
Dari jerat rindu yang mengeras
Ku lempar semua ambisi
Yang membunuh separuh isi hati
Ku dengarkan sabda Illahi
Ku terdiam dalam tangis hati
Ku lukiskan harapan di putih cinta
Ku redam rindu di perihnya luka
Berharap bahagia kan datang menyapa
Hadirkan kehangatan cinta dalam sucinya do'a
Oh Tuhan..
Kini ku pasrahkan...
Segenap hatiku dalam tuntunan
Takdirmu aku ikhlaskan
Dalam sujudku di keheningan malam
Pasukan
hujan sewajarnya sebabkan basah, namun setelahnya ia menumbuhkan kritik terkadang terasa perih, namun ia bisa mendewasakan
bila menantang matahari mata tentunya silau bila manfaatkan cahayanya kita dapatkan kilau
bila berpikir kebelakang hari, bukan bahagia yang membentuk diri namun kesusahan hidup yang dialami, dan semua kesulitan yang dilewati
sebagaimana jalan para Nabi, perih dan duri senantiasa menanti dan jangan pula terlupa, ada pahala disetiap derita
pujian bagai batu yang diinjak, dan celaan layaknya pecut penyemangat jadilah insan yang bijak, yang hadapi ujian dengan taat
bukan apa kata orang yang harusnya dirisaukan melainkan kata Allah yang harus kau perhatikan
biar yang lain bicara kita cukup berkarya
orang boleh mencela kita bisa berdoa
bila menantang matahari mata tentunya silau bila manfaatkan cahayanya kita dapatkan kilau
bila berpikir kebelakang hari, bukan bahagia yang membentuk diri namun kesusahan hidup yang dialami, dan semua kesulitan yang dilewati
sebagaimana jalan para Nabi, perih dan duri senantiasa menanti dan jangan pula terlupa, ada pahala disetiap derita
pujian bagai batu yang diinjak, dan celaan layaknya pecut penyemangat jadilah insan yang bijak, yang hadapi ujian dengan taat
bukan apa kata orang yang harusnya dirisaukan melainkan kata Allah yang harus kau perhatikan
biar yang lain bicara kita cukup berkarya
orang boleh mencela kita bisa berdoa
Senin, 08 April 2013
Tentang Sebuah Langit
Catatan cahaya hati : tentang sebuah langit
ketika bosan tak berkesan aku pergi tinggalkan awan
kala penat tak membuat ku nyaman.. aku loncat saja dari awan
bila hampa menerpa aku duduk membelakangi awan
Jika rindu mulai berbisik ......
Aku hanya akan bisa menyaksikannya
dari jauh ...
Ternyata langit itu tidak selamanya biru .. ada kalanya
berubah menjadi mendung.dan membentuk segumpal awan yang
kelabu.... entah sampai kapan .. itu berakhir
Ternyata langit itu tidak selamanya biru .. ada kalanya
berubah menjadi mendung.dan membentuk segumpal awan yang
kelabu.... entah sampai kapan .. itu berakhir
Sabtu, 06 April 2013
"" jika ku mencintai rembulan , jangan kau salahkan aku bintng ..
aku berharap jika dua menjadi satu itulah yang ku dapatkan saat mentari tak
lagi tersenyum.. bahkan saat udara tak lagi bersuara bersama seduhnya angin
kelam.. oh Bumi bgaimana caranya agar ku bisa blajar mnctainya lgi.. tak ingin
kejora itu kecewa.. SUNGGUH..
Soneta malu .. _from me l :FEBhYAN
Soneta malu .. _from me l :FEBhYAN
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)



